Menuju Ekonomi Berkelanjutan, Fairatmos Dorong Regulasi Perdagangan Karbon di Indonesia dan Vietnam

WARTAKOTALIVE.COM, VIETNAM – Dalam upaya mengatasi perubahan iklim, negara-negara Asia Tenggara menunjukkan komitmen yang kuat untuk melibatkan diri dalam langkah-langkah nyata menuju ekonomi keberlanjutan.

Ekonomi keberlanjutan menjadi topik yang dibahas dalam diskusi tingkat tinggi yang diselenggarakan oleh Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh untuk pengembangan potensi kedua negara menjadi high income country di tahun 2045, di Hanoi Vietnam, Sabtu (13/1/2024) lalu.

Diskusi tersebut juga turut dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo serta para pemimpin perusahaan Indonesia dan Vietnam dari berbagai sektor bisnis yang berkontribusi langsung terhadap pengembangan infrastruktur berkelanjutan.

Menurut Presiden Joko Widodo, perlu adanya kolaborasi bersama di sektor bisnis antara Indonesia dan Vietnam untuk mewujudkan visi yang sama menjadi high income country di tahun 2045.

Partisipan diskusi tingkat tinggi antara Vietnam dan Indonesia terkait high income country di tahun 2045 di Hanoi, Vietnam, Sabtu (13/1/2024). Diskusi ini juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Perdana Menteri Minh Chinh, CEO/Founder Fairatmos Natalia Rialucky Marsudi, dan partisipan lainnya. (KBRI Vietnam)

“Indonesia dan Vietnam memiliki visi yang sama yaitu untuk menjadi high income country di tahun 2045, dan untuk mewujudkannya kita memerlukan kekuatan kolaborasi termasuk kolaborasi di sektor bisnis” ujar Presiden Joko Widodo seperti dikutip dalam keterangan resmi Fairatmos, Senin (22/1/2024).

CEO dan Founder dari Fairatmos, Natalia Rialucky yang hadir dalam diskusi tersebut mengatakan, bahwa dialog bisnis ini tidak hanya menjadi wadah penting bagi Indonesia dan Vietnam untuk menjelajahi peluang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, tetapi juga menjadi landasan untuk memperkuat kerja sama dalam mengoptimalkan potensi bursa karbon di Indonesia yang mencapai lebih dari 200 miliar dollar Amerika Serikat.

“Melalui kolaborasi ini, diharapkan akan terwujud dampak positif yang signifikan terhadap mitigasi perubahan iklim, pelestarian lingkungan, peningkatan aktivitas ekonomi hijau, dan juga peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan, Indonesia, Vietnam, dan negara-negara Asia Tenggara berpotensi memanfaatkan Nature-based Solutions (NbS) untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan pariwisata berkelanjutan.

Baca Juga  Hasil Persija Jakarta vs Dewa United, Marko Simic dan Ryo Matsumura Berhasil Cetak Brace

“NbS membantu mengurangi emisi, menjaga lingkungan, melindungi ekosistem alam, dan tingkatkan daya tarik pariwisata melalui pelestarian keanekaragaman hayati dan pemandangan alam yang khas,” sebut Natalia.

Di Indonesia, sambung Natalia, implementasi NbS diharapkan dapat mengurangi emisi sebesar 200-300 juta metrik ton CO2e/tahun pada 2030, sebanding dengan asumsi mengurangi emisi sekitar 42-63 juta kendaraan bermotor bensin per tahun.

“Langkah ini tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga memacu pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dalam sektor infrastruktur dan pariwisata,” ujarnya.

Natalia menyampaikan, bahwa aksi mitigasi perubahan iklim di sektor kehutanan sangatlah penting untuk menjadi pilar pengembangan ekonomi secara berkelanjutan baik bagi Indonesia dan Vietnam.

Regulasi perdagangan karbon

Selain itu, pihaknya juga memohon dukungan Presiden Republik Indonesia dan Perdana Menteri Vietnam untuk mendorong regulasi yang mendukung pertumbuhan ekosistem berkelanjutan, terutama dalam bidang karbon.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *