Pemilu 2024 di Kompleks KBRI Vatikan Diikuti Biarawati dan Biarawan, Harap Pemimpin Punya Kairos

HUJAN tipis-tipis sejak dini hari setia menemani hari Sabtu tanggal 10 Februari 2024. Bahkan di beberapa bagian Kota Abadi, begitu gelar yang disematkan pada Roma, hujan deras.

Benar, prakiraan cuaca yang dikeluarkan lembaga prakiraan cuaca: sepanjang hari pada 10 Februari,  98 persen diperkirakan akan hujan mulai pukul 08.00, suhu berkisar antara 4 derajat Celsius hingga 12 derajat Celsius. Angin bertiup sedang sampai kencang.

Namun, sejak pukul 09.30 para biarawati dan biarawan dari Indonesia yang berada di Roma, baik berkarya maupun belajar, sudah berdatangan ke kompleks KBRI Takhta Suci Vatikan.

Mereka tak hiraukan hujan gerimis lembut yang terus turun dan angin yang tak habis-habisnya bertiup.

Tujuan mereka hanya satu, menunaikan haknya sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab: memilih presiden dan wakil presiden dan anggota DPR pada Pemilu 2024.

Di Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI Takhta Suci, tercatat 1.601 orang sebagai pemilih tetap yang tersebar di seluruh Italia.

Para pemilih tersebut terdiri atas rohaniwati 1429 orang, rohaniwan dan biarawan 161, serta staf dan keluarga 11 orang (dan Daftar Pemilih Tambahan, 119 orang).

Ada dua TPS yakni di Roma dan Napoli; serta pemilih menggunakan metode mimilih lewat pos.

Komandan pemilu di KBRI Takhta Suci: KPPLN adalah Romo Antonius Setyagerawan dan KPPSLN-nya, Romo Alponsus Zeno Kurniawan.

Baca juga: Cerita Kapel Penyimpanan Relikui Peninggalan Orang Kudus, Dubes RI di Vatikan Langsung Merinding

***

Mereka ikut pesta. pesta demokrasi. Memang, pemilu sering disebut pesta demokrasi.

Meski pestanya tidak selalu meriah dan menyenangkan. Pernah suasana pesta mendebarkan, mencemaskan, bahkan menakutkan.

Banyak cerita di dunia internasional, pemilu demokratis yang justru menjadi awal dari ontran-otran.

Baca Juga  Jelang Pilpres 2024, Fery Farhati dan Rustini Murtadho Wisata Wastra di Bangkalan Madura

Misalnya, Pemilu 1986 yang menjadi lahirnya Revolusi Kekuatan Rakyat, People Power Revolution dan berujung dengan tumbangnya diktator Filipina, Ferdinand Marcos. Semua itu terjadi karena adanya kecurangan dalam pemilu.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *